1.TEORI SOSIAL
MAKRO
Teori ini merupakan teori yang topik
kajiannya menempatkan waktu dan ruang yang mempunyai pengaruh terhadap manusia.
Unit
analisis dari sosiologi makro ini adalah masyarakat sebagai suatu sistem
sosial.
Adapun yang
dimaksud oleh Collins dalam teori sosiologi makro ini adalah teori :
• Evolusi
• Teori sistem
• Teori fungsionalis
• Teori ekonomi politik
• Teori konflik
• Perubahan sosial.
A.TEORI
STRUKTURAL FUNGSIONAL
Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi
yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan
bagian-bagian yang saling berhubungan. Teori fungsionalisme menafsirkan
masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen
konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum
yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini
sebagai "organ" yang bekerja demi berfungsinya seluruh "badan"
secara wajar. Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan "upaya
untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik,
dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif."
Bagi Talcott Parsons, "fungsionalisme struktural" mendeskripsikan
suatu tahap tertentu dalam pengembangan metodologis ilmu sosial, bukan sebuah
mazhab pemikiran.
a.Asumsi dasar
Teori fungsionalisme struktural adalah suatu
bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad
sekarang. Tokoh-tokoh yang pertama kali mencetuskan fungsional yaitu August
Comte, Emile Durkheim dan Herbet Spencer. Pemikiran structural fungsional
sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap masyarakat sebagai
organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan,
ketergantungan tersebut merupakan hasil atau konsekuensi agar organisme
tersebut tetap dapat bertahan hidup. Sama halnya dengan pendekatan lainnya
pendekatan structural fungsional ini juga bertujuan untuk mencapai keteraturan
sosial.
Teori struktural fungsional ini awalnya
berangkat dari pemikiran Emile Durkheim, dimana pemikiran Durkheim ini
dipengaruhi oleh Auguste Comte dan Herbert Spencer. Comte dengan pemikirannya
mengenai analogi organismik kemudian dikembangkan lagi oleh Herbert Spencer
dengan membandingkan dan mencari kesamaan antara masyarakat dengan organisme,
hingga akhirnya berkembang menjadi apa yang disebut dengan requisite
functionalism, dimana ini menjadi panduan bagi analisis substantif Spencer
dan penggerak analisis fungsional. Dipengaruhi oleh kedua orang ini, studi
Durkheim tertanam kuat terminology organismik tersebut. Durkheim mengungkapkan
bahwa masyarakat adalah sebuah kesatuan dimana di dalamnya terdapat bagian –
bagian yang dibedakan. Bagian-bagian dari sistem tersebut mempunyai fungsi
masing – masing yang membuat sistem menjadi seimbang. Bagian tersebut saling
interdependensi satu sama lain dan fungsional, sehingga jika ada yang tidak
berfungsi maka akan merusak keseimbangan sistem. Pemikiran inilah yang menjadi
sumbangsih Durkheim dalam teori Parsons dan Merton mengenai struktural
fungsional. Selain itu, antropologis fungsional-Malinowski dan Radcliffe Brown
juga membantu membentuk berbagai perspektif fungsional modern.
Selain dari
Durkheim, teori struktural fungsional ini juga dipengaruhi oleh pemikiran Max
Weber. Secara umum, dua aspek dari studi Weber yang mempunyai pengaruh kuat
adalah
- Visi substantif mengenai tindakan sosial
dan
- Strateginya dalam menganalisis struktur sosial.
Pemikiran
Weber mengenai tindakan sosial ini berguna dalam perkembangan pemikiran Parsons
dalam menjelaskan mengenai tindakan aktor dalam menginterpretasikan keadaan.
b.Perkembangan Teori Struktural Fungsional
Hingga pertengahan abad, fungsionalisme menjadi
teori yang dominan dalam perspektif sosiologi. Teori fungsional menjadi karya
Talcott Parsons dan Robert Merton dibawah pengaruh tokoh – tokoh yang telah
dibahas diatas. Sebagai ahli teori yang paling mencolok di jamannya, Talcott
Parson menimbulkan kontroversi atas pendekatan fungsionalisme yang ia gulirkan.
Parson berhasil mempertahankan fungsionalisme hingga lebih dari dua setengah
abad sejak ia mempublikasikan The Structure of Social Action pada tahun 1937.
Dalam karyanya ini Parson membangun teori sosiologinya melalui “analytical
realism”, maksudnya adalah teori sosiologi harus menggunakan konsep-konsep
tertentu yang memadai dalam melingkupi dunia luar.
Konsep-consep ini tidak bertanggungjawab pada
fenomena konkrit, tapi kepada elemen-elemen di dallamnya yang secara analitis
dapat dipisahkan dari elemen-elemen lainnya. Oleh karenanya, teori harus
melibatkan perkembangan dari konsep-konsep yang diringkas dari kenyataan
empiric, tentunya dengan segala keanekaragaman dan kebingungan-kebingungan yang
menyertainya. Dengan cara ini, konsep akan mengisolasi fenomena yang melekat
erat pada hubungan kompleks yang membangun realita sosial. Keunikan realism
analitik Parson ini terletak pada penekanan tentang bagaimana konsep abstrak
ini dipakai dalam analisis sosiologi. Sehingga yang di dapat adalah organisasi
konsep dalam bentuk sistem analisis yang mencakup persoalan dunia tanpa
terganggu oleh detail empiris.
Sistem tindakan diperkenalkan parson dengan
skema AGILnya yang terkenal. Parson meyakini bahwa terdapat empat karakteristik
terjadinya suatu tindakan, yakni Adaptation, Goal Atainment, Integration,
Latency. Sistem tindakan hanya akan bertahan jika memeninuhi empat criteria
ini. Dalam karya berikutnya , The Sociasl System, Parson melihat aktor sebagai
orientasi pada situasi dalam istilah motivasi dan nilai-nilai. Terdapat
berberapa macam motivasi, antara lain kognitif, chatectic, dan evaluative.
Terdapat juga nilai-nilai yang bertanggungjawab terhadap sistem sosoial ini,
antara lain nilai kognisi, apresiasi, dan moral. Parson sendiri menyebutnya
sebagai modes of orientation. Unit tindakan olehkarenaya melibatkan motivasi
dan orientasi nilai dan memiliki tujuan umum sebagai konsekuensi kombinasi dari
nilai dan motivasi-motivasi tersebut terhadap seorang aktor.
Karya Parson dengan alat konseptual seperti
empat sistem tindakan mengarah pada tuduhan tentang teori strukturalnya yang
tidak dapat menjelaskan perubahan sosial. Pada tahun 1960, studi tentang
evolusi sosial menjadi jawaban atas kebuntuan Parson akan perubahan sosial
dalam bangunan teori strukturalnya. Akhir dari analisis ini adalah visi
metafisis yang besar oleh dunia yang telah menimpa eksistensi manusia.
Analisis parson merepresentasikan suatu usaha
untuk mengkategorisasikan dunia kedalam sistem, subsistem,
persyaratan-persyaratan system, generalisasi media dan pertukaran menggunakan
media tersebut. Analisis ini pada akhirnya lebih filosofis daripada sosiologis,
yakni pada lingkup visi meta teori.
Pembahasan mengenai fungsionalisme Merton
diawali pemahaman bahwa pada awalnya Merton mengkritik beberapa aspek ekstrem
dan keteguhan dari structural fungsionalisme, yang mengantarkan Merton sebagai
pendorong fungsionalisme kearah marxisme. Hal ini berbeda dari sang guru,
Talcott Parson mengemukakan bahwa teorisi structural fungsional sangatlah
penting.Parson mendukung terciptanya teori yang besar dan mencakup seluruhnya
sedangkan parson lebih terbatas dan menengah.
Seperti penjelasan singkat sebelumnya, Merton
mengkritik apa yang dilihatnya sebagai tiga postulat dasar analisis fungsional(
hal ini pula seperti yang pernah dikembangkan oleh Malinowski dan Radcliffe
brown. Adapun beberapa postulat tersebut antara lain:
- Kesatuan fungsi masyarakat , seluruh
kepercayaan dan praktik sosial budaya standard bersifat fungsional bagi
masyarakat secara keseluruhan maupun bagi individu dalam masyarakat, hal
ini berarti sistem sosial yang ada pasti menunjukan tingginya level
integrasi. Dari sini Merton berpendapat bahwa, hal ini tidak hanya berlaku
pada masyarakat kecil tetapi generalisasi pada masyarakat yang lebih
besar.
- Fungsionalisme universal , seluruh bentuk
dan stuktur sosial memiliki fungsi positif. Hal ini di tentang oleh
Merton, bahwa dalam dunia nyata tidak seluruh struktur , adat istiadat,
gagasan dan keyakinan, serta sebagainya memiliki fungsi positif.
Dicontohkan pula dengan stuktur sosial dengan adat istiadat yang mengatur
individu bertingkah laku kadang-kadang membuat individu tersebut depresi
hingga bunuh diri. Postulat structural fungsional menjadi bertentangan.
- Indispensability, aspek standard
masyarakat tidak hany amemiliki fungsi positif namun juga
merespresentasikan bagian bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan.
Hal ini berarti fungsi secara fungsional diperlukan oleh masyarakat. Dalam
hal ini pertentangn Merton pun sama dengan parson bahwaada berbagai
alternative structural dan fungsional yang ada di dalam masyarakat yang
tidak dapat dihindari.
Argumentasi Merton dijelaskan kembali bahwa
seluruh postulat yang dijabarakan tersebut berstandar pada pernyataan non
empiris yang didasarakan sistem teoritik. Merton mengungkap bahwa seharusnya
postulat yang ada didasarkan empiric bukan teoritika. Sudut pandangan Merton
bahwa analsisi structural fungsional memusatkan pada organisasi, kelompok,
masyarakat dan kebudayaan, objek-objek yang dibedah dari structural fungsional
harsuslah terpola dan berlang, merespresentasikan unsure standard.
Awalnya aliran fungsionalis membatasi dirinya
dalam mengkaji makamirakat secara keseluruhan, namun Merton menjelaskan bahwa
dapat juga diterapkan pada organisasi, institusi dan kelompok. Dalam penjelasan
ini Merton memberikan pemikiran tentang the middle range theory. Merton
mengemukakan bahwa para ahli sosiologi harus lebih maju lagi dalam peningkatan
kedisiplinan dengan mengembangkan “teori-teori taraf menengah” daripada
teori-teori besar.
Teori taraf menengah itu didefinisikan oleh
Merton sebagai : Teori yang terletak di antara hipotesa kerja yang kecil
tetapi perlu, yang berkembang semakin besar selama penelitian dari hari ke
hari, dan usaha yang mencakup semuanya mengembangkan uato teori terpadu yang
akan menjelaskan semua keseragaman yang diamati dalam perilaku social. Teori
taraf menengah pada prinsipnya digunakan dalam sosiologi untuk membimbing
penelitian empiris. Dia merupakan jembatan penghubung teori umum mengenai istem
social yang terlalu jauh dari kelompok-kelompok perilaku tertentu, organisasi,
ddan perubahan untuk mempertanggungjawabkan apa yang diamati, dan gambaran
terinci secara teratur mengenai hal-hal tertentu yang tidak di generaliasi sama
sekali. Teori sosiologi merupakan kerangka proposisi yang saling terhubung
secara logis dimana kesatuan empiris bisa diperoleh.
The middle range theory adalah teori-teori yang
terletak pada minor tetapi hipotesis kerja mengembangkan penelitian sehari-hari
yang menyeluruh dan keseluruhan upaya sistematis yang inklusif untuk
mengembangkan teori yang utuh. The middle range theory Merton ini memiliki
berbagai pemahaman bahwa secara prinsip digunakan untuk panduan temuan-temuan
empiris, merupakan lanjutan dari teori system social yang terlalu jauh dari
penggolongan khusus perilaku social, organisasi, dan perubahan untuk mencatat
apa yang di observasi dan di deskripsikan, meliputi abstraksi, tetapi ia cukup
jelas dengan data yang terobservasi untuk digabungkan dengan proposisi yang
memungkinkan tes empiris dan muncul dari ide yang sangat sederhana.
Dalam hal ini Merton seakan melakukan tarik dan
menyambung, artinya apa yang dia kritik terhadap fungsionalis merupakan jalan yang
dia tempuh untuk menyambung apa yang dia pikirkan. Atau dianalogikan, Merton
mengambil bangunan teori kemudian di benturkan setelah itu dia perbaiki lagi
dengan konseptual yang menurut kami sangat menarik.
Para stuktural fungsional pada awalnya memustakan
pada fungsi dalam struktru dan institusi dalam amsyarakat. Bagi Merton hal ini
tidaklah demikian, karrena dalam menganalis hal itu , para fungsionalis awal
cenderung mencampur adukna motif subjektif individu dengan fungsi stuktur atau
institusi. Analisis fungsi bukan motif individu. Merton sendiri mendefinisikan
fungsi sebagai konsekuensi-konsekuensi yang didasari dan yang menciptakan
adaptasi atau penyesuian, karena selalu ada konsekuensi positif. Tetapi ,
Merton menambahkan konsekuensi dalam fakta sosial yang ada tidaklah positif
tetapi ada negatifnya. Dari sini Merton mengembangkan gagasan akan disfungsi.
Ketika struktur dan fungsi dpat memberikan
kontribusi pada terpeliharanya sistem sosial tetapi dapat mengandung
konsekuensi negative pada bagian lain.Hal ini dapat dicontohkan, struktur
masyarakat patriarki c memberkan kontribusi positif bagi kaum laki-laki untuk
memegang wewenang dalam keputusan kemasyarakatan, tetapi hal ini mengandung
konsekuensi negative bagi kaum perempuan karena aspirasi mereka dalam keputusan
terbatas. Gagasan non fungsi pun , dilontarkan oleh Merton. Merton mengemukakan
nonfungsi sebagai konsekuensi tidak relevan bagi sistem tersebut.
Dapatkonsekuensi positif dimasa lalu tapi tidak dimasa sekarang.Tidaklah dapat
ditentukan manakah yang lebih penting fungsi-fungsi positif atau disfungsi.
Untuk itu Merton menambahkan gagasan melalui keseimbangan mapan dan level
analisis fungsional.
Dalam penjelasan lebih lanjut , Merton
mengemukakan mengenai fungsi manifest dan fungsi laten.Fungsi manifest adalah
fungsi yang dikehendaki, laten adalah yang tidak dikehendaki.Maka dalam stuktur
yang ada, hal-hal yang tidak relevan juga disfungso laten dipenagruhi secara
fungsional dan disfungsional. Merton menunjukan bahwa suatu struktur disfungsional
akan selalu ada.
Dalam teori ini Merton dikritik oleh Colim
Campbell, bahwa pembedaan yang dilakukan Merton dalam fungsi manifest dan laten
, menunjukan penjelasan Merton yang begitu kabur dengan berbagari cara. Hal ini
Merton tidak secara tepat mengintegrasikan teori tindakan dengan
fungsionalisme. Hal ini berimplikasi pada ketidakpasan antara intersionalitas
dengan fungsionalisme structural. Kami rasa dalam hal ini pun Merton terlalu
naïf dalam mengedepankan idealismenya tentang struktur dan dengan beraninya dia
mengemukakan dia beraliran fungsionalis, tapi dia pun mengkritik akar pemikiran
yang mendahuluinya. Tetapi, lebih jauh dari itu konsepnya mengenai fungsi
manifest dan laten telah membuka kekauan bahwa fungsi selalu berada dalam
daftar menu struktur. Merton pun mengungkap bahwa tidak semua struktur sosial
tidak dapat diubah oleh sistem sosial. Tetapi beberapa sistem sosial dapat
dihapuskan. Dengan mengakui bahwa struktur sosia dapat membuka jalan bagi
perubahan sosial.
Analisi Merton tentang hubungan antara
kebudayaan, struktur, dan anomi. Budaya didefinisikan sebagai rangkaian nilai
normative teratur yang mengendalikan perilaku yang sama untuk seluruh anggota
masyarakat. Stuktur sosial didefinisikans ebagai serangkaian hubungan sosial
teratur dan memeprnagaruhi anggota masyarakat atau kelompok tertentu dengan
cara lain. Anomi terjadi jika ketika terdapat disjungsi ketat antara
norma-norma dan tujuan cultural yang terstruktur secara sosial dengan anggota
kelompok untuk bertindak menurut norma dan tujuan tersebut. Posisi mereka dalam
struktur makamirakat beberapa orang tidak mampu bertindakm menurut norma-norma
normative . kebudayaan menghendaki adanya beberapa jenis perilaku yang dicegah
oleh struktur sosial.
Merton menghubungkan anomi dengan penyimpangan
dan dengan demikian disjungsi antara kebudayan dnegan struktur akan melahirkan
konsekuensi disfungsional yakni penyimpangan dalam masyarakat. Anomi Merton
memang sikap kirits tentang stratifikasi sosial, hal ini mengindikasikan bahwa
teori structural fungsionalisme ini aharus lebih kritis dengan stratifikasi
sosialnya. Bahwa sturktur makamirakat yangselalu berstratifikasi dan
masing-masing memiliki fungsi yang selama ini diyakini para fungsionalis,
menurut dapat mengindikasikan disfungsi dan anomi. Dalam hal ini kami setuju
dengan Merton,dalam sensory experiences yang pernah kami dapatkan, dimana ada
keteraturan maka harus siap deng ketidakteraturan, dalam struktur yang teratur,
kedinamisan terus berjalan tidak pada status di dalamnya tapi kaitan dalama
peran.
Anomi atau disfungsi cenderung hadir dipahami
ketika peran dalam struktu berdasarkan status tidak dijalankan akibat berbagai
factor. Apapun alasannya anomi dalam struktur apalagi yang kaku akan cenderung
lebih besar. Dari sini, Merton tidak berhenti dengan deskripsi tentang struktur
, akan tetapi terus membawa kepribadian sebagai produk organisasi struktur
tersebut. Pengaruh lembaga atau struktur terhadap perilaku seseorang adalah
merupakan tema yang merasuk ke dalam karya Merton, lalu tema ini selalu
diilustrasikan oleh Merton yaitu the Self Fullfilling Prophecy serta dalam buku
Sosial structure And Anomie.
Disini Merton berusaha menunjukkan bagaimana
struktur sosial memberikan tekanan yang jelas pada orang-orang tertentu yang
ada dalam masyarakat sehingga mereka lebih , menunjukkan kelakuan non konformis
ketimbang konformis. Menurut Merton, anomie tidak akan muncul sejauh
masyarakkat menyediakan sarana kelembagaan untuk mencapai tujuan-tujuan kultur
tersebut.
Dari berbagai penajabaran yang ada Pemahaman
Merton membawa pada tantangan untuk mengkonfirmasi segala pemikiran yang telah
ada. Hal ini terbukti dengan munculnya fungsionalisme gaya baru yang lebih jauh
berbeda dengan apa yang pemikiran Merton. Inilah bukti kedinamisan ilmu
pengetahuan, tak pelak dalam struktural fungsionalisme.
B.TEORI KONFLIK
Teori konflik adalah
teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses
penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya
konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula.
Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana- sarana produksi sebagai unsur pokok
pemisahan kelas dalam masyarakat.
1.Asumsi
dasar
Teori konflik muncul sebagai reaksi
dari munculnya teori struktural fungsional.
Pemikiran yang paling berpengaruh atau menjadi dasar dari teori konflik
ini adalah pemikiran Karl Marx.Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik
mulai merebak. Teori konflik menyediakan alternatif terhadap teori struktural
fungsional.]
Pada saat itu Marx mengajukan konsepsi mendasar
tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas
secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad
ke- 19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis)
dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam
suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap
kaum proletar dalam proses produksi.
Eksploitasi ini akan terus berjalan selama
kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu
berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga.
Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong
terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan tersebut terjadi
jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjuis terhadap mereka.
Ada beberapa asumsi dasar dari teori konflik
ini. Teori konflik merupakan antitesis dari teori struktural fungsional, dimana
teori struktural fungsional sangat mengedepankan keteraturan dalam masyarakat.
Teori konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Teori konflik
melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan.
Buktinya dalam masyarakat manapun pasti pernah mengalami konflik-konflik atau
ketegangan-ketegangan.
Kemudian
teori konflik juga melihat adanya dominasi, koersi, dan kekuasaan dalam
masyarakat. Teori konflik juga membicarakan mengenai otoritas yang
berbeda-beda. Otoritas yang berbeda-beda ini menghasilkan superordinasi dan
subordinasi. Perbedaan antara superordinasi dan subordinasi dapat menimbulkan
konflik karena adanya perbedaan kepentingan.
Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu
perlu agar terciptanya perubahan sosial. Ketika struktural fungsional
mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu selalu terjadi pada
titik ekulibrium, teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena
adanya konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik tertentu, masyarakat
mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. Di dalam konflik, selalu ada
negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga terciptalah suatu konsensus.
Menurut teori konflik, masyarakat disatukan
dengan “paksaan”. Maksudnya, keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya
karena adanya paksaan (koersi). Oleh karena itu, teori konflik lekat
hubungannya dengan dominasi, koersi, dan power. Terdapat dua tokoh sosiologi
modern yang berorientasi serta menjadi dasar pemikiran pada teori konflik,
yaitu Lewis A. Coser dan Ralf Dahrendorf.
2.Teori
konflik menurut lewis A. coser
B.Sejarah awal
Selama lebih dari dua puluh tahun Lewis A.
Coser tetap terikat pada model sosiologi dengan tertumpu kepada struktur
sosial. Pada saat yang sama dia menunjukkan bahwa model tersebut selalu
mengabaikan studi tentang konflik sosial. Berbeda dengan beberapa ahli
sosiologi yang menegaskan eksistensi dua perspektif yang berbeda (teori
fungsionalis dan teori konflik), coser mengungkapkan komitmennya pada
kemungkinan menyatukan kedua pendekatan tersebut.
Akan tetapi para ahli sosiologi kontemporer
sering mengacuhkan analisis konflik sosial, mereka melihatnya konflik sebagai
penyakit bagi kelompok sosial. Coser memilih untuk menunjukkan berbagai sumbangan
konflik yang secara potensial positif yaitu membentuk serta mempertahankan
struktur suatu kelompok tertentu. Coser mengembangkan perspektif konflik karya
ahli sosiologi Jerman George Simmel.
Seperti halnya Simmel, Coser tidak mencoba
menghasilkan teori menyeluruh yang mencakup seluruh fenomena sosial. Karena ia
yakin bahwa setiap usaha untuk menghasilkan suatu teori sosial menyeluruh yang
mencakup seluruh fenomena sosial adalah premature (sesuatu yang sia- sia.
Memang Simmel tidak pernah menghasilkan risalat sebesar Emile Durkheim, Max
Weber atau Karl Marx. Namun, Simmel mempertahankan pendapatnya bahwa sosiologi
bekerja untuk menyempurnakan dan mengembangkan bentuk- bentuk atau konsep-
konsep sosiologi di mana isi dunia empiris dapat ditempatkan. Penjelasan
tentang teori knflik Simmel sebagai berikut:
•Simmel
memandang pertikaian sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam
masyarakat. Struktur sosial dilihatnya sebagai gejala yang mencakup pelbagai
proses asosiatif dan disosiatif yang tidak mungkin terpisah- pisahkan, namun
dapat dibedakan dalam analisis.
•Menurut
Simmel konflik tunduk pada perubahan. Coser mengembangkan proposisi dan
memperluas konsep Simmel tersebut dalam menggambarkan kondisi- kondisi di mana
konflik secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara negatif
akan memperlemah kerangka masyarakat.
B.Inti
Pemikiran
Konflik dapat merupakan proses yang bersifat
instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial.
Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih
kelompok.
Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat
kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia
sosial sekelilingnya.
Seluruh fungsi positif konflik tersebut dapat
dilihat dalam ilustrasi suatu kelompok yang sedang mengalami konflik dengan
kelompok lain. Misalnya, pengesahan pemisahan gereja kaum tradisional (yang
memepertahankan praktik- praktik ajaran katolik pra- Konsili Vatican II) dan
gereja Anglo- Katolik (yang berpisah dengan gereja Episcopal mengenai masalah
pentahbisan wanita). Perang yang terjadi bertahun- tahun yang terjadi di Timur
Tengah telah memperkuat identitas kelompok Negara Arab dan Israel.
Coser
melihat katup penyelamat berfungsi sebagai jalan ke luar yang meredakan
permusuhan, yang tanpa itu hubungan- hubungan di antara pihak-pihak yang
bertentangan akan semakin menajam. Katup Penyelamat (savety-value) ialah salah
satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari
kemungkinan konflik sosial. Katup
penyelamat merupakan sebuah institusi pengungkapan rasa tidak puas atas sebuah
sistem atau struktur.
Contoh: Badan Perwakilan Mahasiswa atau
panitia kesejahteraan Dosen. Lembaga tersebut membuat kegerahan yang berasal
dari situasi konflik tersalur tanpa menghancurkan sistem tersebut.
Menurut
Coser konflik dibagi menjadi dua, yaitu:
1.Konflik
Realistis, berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan- tuntutan khusus yang
terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan,
dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Contohnya para
karyawan yang mogok kerja agar tuntutan mereka berupa kenaikan upah atau gaji
dinaikkan.
2.Konflik
Non- Realistis, konflik yang bukan berasal dari tujuan- tujuan saingan yang antagonis,
tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu
pihak. Coser menjelaskan dalam masyarakat yang buta huruf pembasan dendam
biasanya melalui ilmu gaib seperti teluh, santet dan lain- lain. Sebagaimana
halnya masyarakat maju melakukan pengkambinghitaman sebagai pengganti
ketidakmampuan melawan kelompok yang seharusnya menjadi lawan mereka.
Menurut Coser terdapat suatu kemungkinan
seseorang terlibat dalam konflik realistis tanpa sikap permusuhan atau agresi.
Contoh:
Dua pengacara yang selama masih menjadi mahasiswa berteman erat. Kemudian
setelah lulus dan menjadi pengacara dihadapkan pada suatu masalah yang menuntut
mereka untuk saling berhadapan di meja hijau. Masing- masing secara agresif dan
teliti melindungi kepentingan kliennya, tetapi setelah meniggalkan persidangan
mereka melupakan perbedaan dan pergi ke restoran untuk membicarakan masa lalu.
Akan
tetapi apabila konflik berkembang dalam hubungan- hubungan yang intim, maka
pemisahan (antara konflik realistis dan non-realistis) akan lebih sulit untuk
dipertahankan. Coser mennyatakan bahwa, semakin dekat suatu hubungan semakin
besar rasa kasih sayang yang sudah tertanam, sehingga semakin besar juga
kecenderungan untuk menekan ketimbang mengungkapkan rasa permusuhan. Sedang
pada hubungan- hubungan sekunder, seperti misalnya dengan rekan bisnis, rasa
permusuhan dapat relatif bebas diungkapkan. Hal ini tidak selalu bisa terjadi
dalam hubungan- hubungan primer dimana keterlibatan total para partisipan
membuat pengungkapan perasaan yang demikian merupakan bahaya bagi hubungan
tersebut. Apabila konflik tersebut
benar- benar melampaui batas sehingga menyebabkan ledakan yang membahayakan
hubungan tersebut.
Contoh:
Seperti konflik antara suami dan istri, serta konflik sepasang kekasih.
Coser mengutip hasil pengamatan Simmel yang
meredakan ketegangan yang terjadi dalam suatu kelompok. Dia menjelaskan bukti
yang berasal dari hasil pengamatan terhadap masyarakat Yahudi bahwa peningkatan
konflik kelompok dapat dihubungkan dengan peningkatan interaksi dengan
masyarakat secara keseluruhan.
Bila konflik dalam kelompok tidak ada, berarti
menunjukkan lemahnya integrasi kelompok tersebut dengan masyarakat. Dalam
struktur besar atau kecil konflik in-group merupakan indikator adanya suatu
hubungan yang sehat. Coser sangat menentang para ahli sosiologi yang selalu
melihat konflik hanya dalam pandangan negatif saja. Perbedaan merupakan
peristiwa normal yang sebenarnya dapat memperkuat struktur sosial. Dengan
demikian Coser menolak pandangan bahwa ketiadaan konflik sebagai indikator dari
kekuatan dan kestabilan suatu hubungan.
3.Teori
konflik menurut Ralf dahrendorf
a.Sejarah
Awal
Bukan hanya Coser saja yang tidak puas dengan
pengabaian konflik dalam pembentukan teori sosiologi.segera setelah penampilan
karya Coser, seorang ahli sosiologi Jerman bernama Ralf Dahrendorf menyadur
teori kelas dan konflik kelasnya ke dalam bahasa inggris yang sebelumnya
berbahasa Jerman agar lebih mudah difahami oleh sosiolog Amerika yang tidak
faham bahasa Jerman saat kunjungan singkatnya ke Amerika Serikat (1957- 1958). Dahrendorf tidak menggunakan teori Simmel
melainkan membangun teorinya dengan separuh penerimaan, separuh penolakan,
serta memodifikasi teori sosiologi Karl Marx. Seperti halnya Coser, Ralf
Dahrendorf mula- mula melihat teori konflik sebagai teori parsial, mengenggap
teori tersebut merupakan perspektif yang dapat dipakai untuk menganalisis
fenomena sosial. Ralf Dahrendorf menganggap masyarakat bersisi ganda, memiliki
sisi konflik dan sisi kerja sama.
b.Inti
Pemikiran
Teori konflik Ralf Dahrendorf merupakan separuh
penerimaan, separuh penolakan, serta modifikasi teori sosiologi Karl Marx. Karl
Marx berpendapat bahwa pemilikan dan Kontrol sarana- sarana berada dalam satu
individu- individu yang sama.
Menurut Dahrendorf tidak selalu pemilik sarana-
sarana juga bertugas sebagai pengontrol apalagi pada abad kesembilan belas.
Bentuk penolakan tersebut ia tunjukkan dengan memaparkan perubahan yang terjadi
di masyarakat industri semenjak abad kesembilan belas. Diantaranya:
•Dekomposisi
modal
Menurut
Dahrendorf timbulnya korporasi- korporasi dengan saham yang dimiliki oleh orang
banyak, dimana tak seorangpun memiliki kontrol penuh merupakan contoh dari
dekomposisi modal. Dekomposisi tenaga.
•Dekomposisi
Tenaga kerja
Di abad
spesialisasi sekarang ini mungkin sekali seorang atau beberapa orang
mengendalikan perusahaan yang bukan miliknya, seperti halnya seseorang atau
beberapa orang yang mempunyai perusahaan tapi tidak mengendalikanya. Karena
zaman ini adalah zaman keahlian dan spesialisasi, manajemen perusahaan dapat
menyewa pegawai- pegawai untuk memimpin perusahaanya agar berkembang dengan
baik.
•Timbulnya
kelas menengah baru
Pada
akhir abad kesembilan belas, lahir kelas pekerja dengan susunan yang jelas, di
mana para buruh terampil berada di jenjang atas sedang buruh biasa berada di
bawah.
Penerimaan Dahrendorf pada teori konflik Karl
Marx adalah ide mengenai pertentangan kelas sebagai satu bentuk konflik dan
sebagai sumber perubahan sosial. Kemudian dimodifikasi oleh berdasarkan
perkembangan yang terjadi akhir- akhir ini. Dahrendorf mengatakan bahwa ada
dasar baru bagi pembentukan kelas, sebagai pengganti konsepsi pemilikan sarana
produksi sebagai dasar perbedaan kelas itu. Menurut Dahrendorf hubungan-
hubungan kekuasaan yang menyangkut bawahan dan atasan menyediakan unsur bagi
kelahiran kelas.
Dahrendorf mengakui terdapat perbedaan di
antara mereka yang memiliki sedikit dan banyak kekuasaan. Perbedaan dominasi
itu dapat terjadi secara drastis. Tetapi pada dasarnya tetap terdapat dua kelas
sosial yaitu, mereka yang berkuasa dan yang dikuasai. Dalam analisisnya
Dahrendorf menganggap bahwa secara empiris, pertentangan kelompok mungkin
paling mudah di analisis bila dilihat sebagai pertentangan mengenai ligitimasi
hubungan- hubungan kekuasaan. Dalam setiap asosiasi, kepentingan kelompok
penguasa merupakan nilai- nilai yang merupakan ideologi keabsahan kekuasannya,
sementara kepentingan- kepentingan kelompok bawah melahirkan ancaman bagi
ideologi ini serta hubungan- hubungan sosial yang terkandung di dalamnya.
Contoh:
Kasus kelompok minoritas yang pada tahun 1960-an kesadarannya telah memuncak,
antara lain termasuk kelompok- kelompok kulit hitam, wanita, suku Indian dan
Chicanos. Kelompok wanita sebelum tahun 1960-an merupakan kelompok semu yang
ditolak oleh kekuasan di sebagian besar struktur sosial di mana mereka
berpartisipasi. Pada pertengahan tahun 1960-an muncul kesadaran kaum wanita
untuk menyamakan derajatnya dengan kaum laki- laki.
2.TEORI
SOSIAL MIKRO
Teori sosial mikro merupakan teori
yang memfokuskan pada topik kajian ruang dan waktu dalam ukuran yang lebih
kecil dimana individu dan interaksinya yang didasari oleh prilaku dan
kesadaran. Akan tetapi, Collins
menambahkan bahwa unit mikro tidak memiliki batas yang jelas dengan
mempertanyakan bagaimana keberadaan individu terhadap individu lain terhadap
kelompoknya. Adapun yang termasuk ke
dalam teori sosiologi mikro ini adalah teori ritual interaksi (Durkheim dan
Goffman), teori status sosial (Goffman), dan teori pertukaran, dan teori relasi
sosial.
A.INTERAKSIONISME
SIMBOLIK
Teori interaksionisme-simbolik
dikembangkan oleh kelompok The Chicago School dengan tokoh-tokohnya seperti
Goerge H.Mead dan Herbert Blummer. Awal perkembangan interaksionisme simbolik
dapat dibagi menjadi dua aliran / mahzab yaitu aliran / mahzab Chicago, yang
dipelopori oleh oleh Herbert Blumer, melanjutkan penelitian yang dilakukan
George Herbert Mead. Blumer meyakini bahwa studi manusia tidak bisa
diselenggarakan di dalam cara yang sama dari ketika studi tentang benda mati.
Peneliti perlu mencoba empati dengan pokok materi, masuk pengalaman nya, dan
usaha untuk memahami nilai dari tiap orang. Blumer dan pengikut nya
menghindarkan kwantitatif dan pendekatan ilmiah dan menekankan riwayat hidup,
autobiografi, studi kasus, buku harian, surat, dan nondirective interviews.
Blumer terutama sekali menekankan pentingnya pengamatan peserta di dalam studi
komunikasi.
Pada teori ini dijelaskan bahwa
tindakan manusia tidak disebabkan oleh “kekuatan luar” (sebagaimana yang
dimaksudkan kaum fungsionalis struktural), tidak pula disebabkan oleh “kekuatan
dalam” (sebagaimana yang dimaksud oleh kaum reduksionis psikologis) tetapi
didasarkan pada pemaknaan atas sesuatu yang dihadapinya lewat proses yang oleh
Blumer disebut self-indication.
Menurut Blumer proses self-indication adalah
proses komunikasi pada diri individu yang dimulai dari mengetahui sesuatu,
menilainya, memberinya makna, dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna
tersebut. Lebih jauh Blumer menyatakan
bahwa interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol, oleh
penafsiran, dan oleh kepastian makna dari tindakan orang lain, bukan hanya
sekedar saling bereaksi sebagaimana model stimulus-respons.
Interaksionisme simbolis cenderung sependapat
dengan perihal kausal proses interaksi social. Dalam artian, makna tersebut
tidak tumbuh dengan sendirinya namun mucul berkat proses dan kesadaran manusia.
Kecenderungan interaksionime simbolis ini muncul dari gagasan dasar dari Mead
yang mengatakan bahwa interaksionis symbol memusatkan perhatian pada tindakan
dan interaksi manusia, bukan pada proses mental yang terisolasi. Jadi sebuah
symbol tidak dibentuk melalui paksaan mental merupakan timbul berkat
ekspresionis dan kapasitas berpikir manusia.
Pada tahapanselanjutnya, pokokperhatianinteraksionismesimbolismengacu
pada dampakmakna dan symbol terhadaptindakan dan interaksimanusia. Dalam tahapan ini Mead memberikan gagasan
mengenai perilaku tertutup dan perilaku terbuka. Perilaku tertutup adalah
proses berpikir yang melibatkan makna dan symbol. Perilaku terbuka adalah
perilaku actual yang dilakukan oleh actor.
Di lain sisi, seorang actor juga akan memikirkan bagaimana dampak yang
akan terjadi sesuai dengan tindakan. Tindakan yang dihasilkan dari pemaknaan
symbol dan makna yang merupakan karakteristik khusus dalam tindakan social itu
sendiri dan proses sosialisasi.
Dalam interaksionisme simbolis, seseorang memberikan
informasi hasil dari pemaknaan symbol dari perspektifnya kepada orang lain. Dan
orang-orang penerima informasi tersebut akan memiliki perspektif lain dalam
memaknai informasi yang disampaikan actor pertama. Dengan kata lain actor akan
terlibat dalam proses saling mempengaruhi sebuah tindakan social.
Untuk
dapat melihat adanya interaksi sosial yaitu dengan melihat individu
berkomunikasi dengan komunitasnya dan akan mengeluarkan bahasa-bahasa ,
kebiasaan atau simbol-simbol baru yang menjadi objek penelitian para peneliti
budaya .
Interaksi
tersebut dapat terlihat dari bagaimana komunitasnya, karena dalam suatu komunitas
terdapat suatu pembaharuan sikap yang menjadi suatu trend yang akan
dipertahankan , dihilangkan , atau dipebaharui maknanya iak itu terus melekat
pada suatu komunitas, interaksi simbolik juga dapat menjadi suatu alat
penafsiran untuk menginterpretaskan suatu masalah atau kejadian.
Melalui premis dan proposisi dasar yang ada, muncul tujuh
prinsip interaksionisme simbolik, yaitu:
(1) simbol dan interaksi menyatu. Karena itu,
tidak cukup seorang peneliti hanya merekam fakta, melainkan harus sampai pada
konteks
(2) karena simbol juga bersifat personal,
diperlukan pemahaman tentang jati diri pribadi subyek penelitian
(3) peneliti sekaligus mengkaitkan antara simbol
pribadi dengan komunitas budaya yang mengitarinya
(4) perlu direkam situasi yang melukiskan simbol
(5) metode perlu merefleksikan bentuk perilaku
dan prosesnya
(6) perlu menangkap makna di balik fenomena
(7) ketika memasuki lapangan, sekedar mengarahkan
pemikiran subyek, akan lebih baik
B.TEORI
PERTUKARAN SOSIAL
Teori pertukaran sosial adalah teori
dalam ilmu sosial yang menyatakan bahwa dalam hubungan sosial terdapat unsur
ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan yang saling memengaruhi.[rujukan?] Teori
ini menjelaskan bagaimana manusia memandang tentang hubungan kita dengan orang
lain sesuai dengan anggapan diri manusia tersebut terhadap:
1.
Keseimbangan antara apa yang di berikan ke dalam hubungan dan apa
yang dikeluarkan dari hubungan itu.
2.
Jenis hubungan yang dilakukan.
3.
Kesempatan memiliki hubungan
yang lebih baik dengan orang lain
Pada
umumnya,hubungan sosial terdiri daripada masyarakat, maka kita dan masyarakat
lain di lihat mempunyai perilaku yang saling memengaruhi dalam hubungan
tersebut,yang terdapat unsur ganjaran , pengorbanan dan keuntungan .
Ganjaran merupakan segala hal yang diperolehi
melalui adanya pengorbanan,manakala pengorbanan merupakan semua hal yang
dihindarkan, dan keuntungan adalah ganjaran dikurangi oleh pengorbanan. Jadi
perilaku sosial terdiri atas pertukaran paling sedikit antara dua orang
berdasarkan perhitungan untung-rugi. Misalnya, pola-pola perilaku di tempat
kerja, percintaan, perkawinan,dan persahabatan.
Analogi
dari hal tersebut, pada suatu ketika anda merasa bahwa setiap teman anda yang
di satu kelas selalu berusaha memperoleh sesuatu dari anda. Pada saat tersebut
anda selalu memberikan apa yang teman anda butuhkan dari anda, akan tetapi hal
sebaliknya justru terjadi ketika anda membutuhkan sesuatu dari teman anda.
Setiap individu menjalin pertemanan tentunya mempunyai tujuan untuk saling
memperhatikan satu sama lain. Individu tersebut pasti diharapkan untuk berbuat
sesuatu bagi sesamanya, saling membantu jikalau dibutuhkan, dan saling
memberikan dukungan dikala sedih. Akan tetapi mempertahankan hubungan
persahabatan itu juga membutuhkan biaya (cost) tertentu, seperti hilang waktu
dan energi serta kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak jadi dilaksanakan.
Meskipun biaya-biaya ini tidak dilihat sebagai
sesuatu hal yang mahal atau membebani ketika dipandang dari sudut penghargaan
(reward) yang didapatkan dari persahabatan tersebut. namun, biaya tersebut
harus dipertimbangkan apabila kita menganalisis secara obyektif
hubungan-hubungan transaksi yang ada dalam persahabatan. Apabila biaya yang
dikeluarkan terlihat tidak sesuai dengan imbalannya, yang terjadi justru
perasaan tidak enak di pihak yang merasa bahwa imbalan yang diterima itu
terlalu rendah dibandingkan dengan biaya atau pengorbanan yang sudah diberikan.
Analisa
mengenai hubungan sosial yang terjadi menurut cost and reward ini merupakan
salah satu ciri khas teori pertukaran. Teori pertukaran ini memusatkan
perhatiannya pada tingkat analisis mikro, khususnya pada tingkat kenyataan
sosial antarpribadi (interpersonal). Pada pembahasan ini akan ditekankan pada
pemikiran teori pertukaran oleh Homans dan Blau. Homans dalam analisisnya
berpegang pada keharusan menggunakan prinsip-prinsip psikologi individu untuk
menjelaskan perilaku sosial daripada hanya sekedar menggambarkannya. Akan
tetapi Blau di lain pihak berusaha beranjak dari tingkat pertukaran
antarpribadi di tingkat mikro, ke tingkat yang lebih makro yaitu struktur
sosial. Ia berusaha untuk menunjukkan bagaimana struktur sosial yang lebih
besar itu muncul dari proses-proses pertukaran dasar.
a.Teori
pertukaran homans
asumsi dasar teori pertukaran homans
adalah dia menganggap perilaku sosial sebagai sebuah pertukaran aktivitas,
nyata atau tidak nyata, dan kurang lebih sebagai pertukaran hadiah atau biaya,
sekurang-kurangnya antara dua orang.
Melalui teori pertukaran, homans
membawa sosiologi dalam konteks yang lebih mikro ia mengembangkan teori ini
dengan mengajukan bebeapa proposisi ilmiah
1. Proposisi
sukses: semakin sering tindakan khusus seseorang diberi hadiah, semakin besar
orang melakukan tindakan itu (tindakan, hadiah, perulangan serupa)
2.
Proposisi pendorong: dorongan tertentu telah menyebabkan tindakan orang diberi
hadiah, makin serupa dorongan di masa lau makin besar kemungkinan orang
melakukan tindakan serupa.
3.
Proposisi nilai: makatinggi nilai hail tindakan seseorang bagi dirinya, makin
besar kemungkinan ia melakukan tindakan.
4.
Proposisi deprivasi: makin sering mendapat hadiah dalam jangka waktu dekat
makin kurang bernilai baginya unit hadiah berikutnya.
5.
Proposisi persetujuan agresi: bila tindakan tidak mendapat hadiah yang
diharapkan/hukuman yang diharapkan, maka akan marah, melakukan tindakan agresi
dan tindakan demikianmakin bernilai baginya.
6.
Proposisi rasionalitas: dalam memilih berbagai tindakan alternative, orang akan
memilih satu yang dianggap memilii value (V) sebagai hasil, dikalikan
probabilitas (p) untuk mendapatkan hasil yang lebih besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar